Kamis, Juli 22, 2010

TNOGRAFI KOMUNIKASI

ETNOGRAFI KOMUNIKASI BAHASA MELAYU
oleh: Neneng Widiyawati

PENDAHULUAN
Berkurun lamanya orang yang tinggal di alam Melayu ini hidup berkelompok tanpa berhubungan dengan kelompok yang lain. Mereka dipisahkan oleh gunung-ganang dan lautan yang luas. Walaupun pada mulanya mereka satu asal tetapi karena terputusnya hubungan di antara satu kelompok dengan kelompok yang lain dalam masa yang sangat lama, maka setiap kelompok mengatur cara hidup dan menggunakan pertuturan mereka sendiri sesuai dengan keadaan alam dan keperluan hidup mereka masing-masing. Akibat keadaan inilah timbulnya suku bangsa dan bahasa yang terdapat di Indonesia dan pelbagai logat/dialek bahasa Melayu di Tanah Semenanjung.
Sebelum ditemukan bukti sejarah berupa tulisan pada batu bersurat tentulah bahasa Melayu telah digunakan untuk masa yang panjang karena ditemukan bahasa yang ada pada batu bersurat kemudiannya sudah agak tersusun pembinaan kata dan pembinaan ayatnya dan juga sudah kuat pengaruhnya sehingga orang India yang menulis perkataan pada batu bersurat tersebut yang menggunakan aksara Sansekerta memasukkan juga beberapa perkataan Melayu. Untuk memberi nama pada bahasa yang tidak mempunyai bukti sejarah tersebut (sebelum bahasa orang India masuk ke Nusantara), ia diberi nama bahasa Melayu Purba.
Bahasa Melayu Kuno
Berabad-abad sebelum Masehi, Selat Melaka telah digunakan oleh pedagang Arab sebagai jalan pelayarannya membawa barang perniagaan dari Tiongkok, Sumatera, dan India ke pelabuhan samping Aceh yang sudah terkenal hasil rempahnya ke dunia Arab.
Pedagang Arab yang dimaksud di sini tidak semestinya beragama Islam karena hubungan di antara Arab dan alam Melayu telah ada sejak zaman sebelum munculnya Islam. Penggunaan kapur barus untuk mengawetkan mayat (mummi) yang disimpan di dalam piramid pada Zaman Mesir Kuno dikatakan diambil dari Barus (nama tempat) di pulau Sumatera. Pada abad pertama, barulah pedagang dari India belayar ke timur menuju Tiongkok dan pedagang Tiongkok pula belayar ke barat menuju India. Pelayaran dua arah ini mengharuskan mereka melalui Selat Melaka. Lama-kelamaan pelabuhan yang ada di Kepulauan Melayu ini bukan saja sebagai tempat persinggahan tetapi menjadi tempat perdagangan pedagang India dan Tiongkok seperti yang telah dirintis lebih awal oleh pedagang Arab. Di samping itu juga para mubaligh terutama mubaligh India turut datang ke Kepulauan Melayu ini untuk menyebarkan agama Hindu. Kedatangan para pedagang dan penyebar agama ini mengakibatkan bahasa Melayu Purba mendapat pengaruh baru. Bahasa Melayu Purba ini kemudian dinamakan sebagai bahasa Melayu Kuno.

Bukti tertulis penemuan bahasa melayu
Batu Bersurat
Bukti bertulis yang tertua tentang bahasa Melayu Kuno ini terdapat di beberapa buah prasasti (batu bersurat). Yang terpenting di antara batu bersurat tersebut ialah:
a. Batu Bersurat Kedukan Bukit (Palembang), bertarikh 605 Tahun Saka, bersamaan dengan 683 M (Masehi). Tulisan yang terdapat pada Batu Bersurat ini menggunakan huruf Palava.
b. Batu Bersurat Talang Tuwo (Palembang), bertarikh 606 Tahun Saka, bersamaan dengan 684 M. Batu Bersurat ini ditemukan oleh Residen Westenenk, 17 Nopember 1920 di sebuah kawasan bernama Talang Tuwo, di sebelah barat daya Bukit Siguntang, yaitu lebih kurang 8 km dari Palembang.
c. Batu Bersurat Kota Kapur (Bangka), bertarikh 608 Tahun Saka, bersamaan dengan 686 M.
d. Batu Bersurat Karang Brahi (Jambi), bertarikh 614 Tahun Saka, bersamaan dengan 692 M.

Batu Bersurat Kedukan Bukit
Bahasa yang terdapat pada Batu Bersurat Kedukan Bukit tersebut ditulis dengan menggunakan huruf Palava, yaitu sejenis tulisan India Selatan Purba bagi penyebaran agama Hindu. Setelah ditransliterasikan ke huruf rumi tulisan tersebut adalah seperti yang berikut ini (dengan sedikit pengubahsuaian susunan dan bentuk, seperti c dibaca sy):
Svasti cri
cakavarsatita 605 ekadaci
cuklapaksa vulan vaicakha daputa
hyang nayik di samvau mangalap
siddhayatra
di saptami cuklapaksa
vulan jyestha dapunta hyang marlapas
dari minana Tamvar (Kamvar)
mamava yang vala dua laksa
ko dua ratus cara di samvau
dangan jalan sarivu tlu ratus sapulu dua vanakna
datang di matada (nau) sukhacitta
di pancami cuklapaksa vulan asada
laghu mudita datang
marvuat vanua ... Crivijaya
jaya siddhayatra subhika ...
Dari transliterasi ini jelas terlihat walaupun pernyataan yang ingin disampaikan itu berkenaan dengan Raja Sriwijaya yang menganut faham Hindu tetapi pengaruh bahasa Melayu terhadap bahasa Sansekerta sudah demikian meluas. Jika kita bandingkan bahasa Melayu Kuno di atas dengan bahasa Melayu kini, kita akan menemukan perubahan pembentukan bunyi dan perkataan seperti yang berikut ini:
vulan = bulan
nayik = naik
samvau = sampau = sampan (maksudnya perahu yang besar)
mangalap = mengambil (maksudnya mencari)
marlapas = berlepas
mamava = membawa
vala = bala = balatentera
laksa = (menyatakan jumlah yang tidak terkira banyaknya)
dangan = dengan
sarivu = seribu
tlu = telu = tiga
sapuluh dua = sepuluh dua = dua belas
vanakna = banyaknya
sukhacitta = sukacita
marvuat = berbuat
vanua = benua = negeri
ko = ke
Jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Melayu isi Batu Bersurat Kedukan Bukit ini lebih kurang seperti yang berikut ini:
Selamat bahagia
pada tahun saka 605 hari kesebelas
dari bulan terang bulan waisaka daputa
baginda naik perahu mencari
rezeki
pada hari ketujuh bulan terang
bulan jyesta dapunta baginda berlepas
dari muara Kampar
membawa askar dua laksa
dua ratus orang di perahu
yang berjalan seribu tiga ratus dua belas banyaknya
datang di matada dengan suka cita
pada hari kelima bulan terang bulan asada
dengan lega datang
membuat negeri ... Seriwijaya
yang berjaya, yang bahagia, yang makmur
Batu Bersurat Kota Kapur
Pada Batu Bersurat Kota Kapur perkataan/bahasa Melayu telah lebih banyak ditemukan dan unsur bahasa Sansekerta semakin berkurang. Beberapa perkataan bahasa Melayu Kuno sebahagian telah memperlihatkan irasnya dan sebahagian lagi kekal digunakan hingga kini, seperti: abai, aku, batu, banyak, benua, beri, buat, bulan, bunuh, datu, dengan, di dalam, dosanya, durhaka, gelar, hamba, jahat, jangan, kait, kasihan, kedatuan, keliwat, kita, lawan, maka, mati, merdeka, mula, orang, pahat, persumpahan, pulang, roga, sakit, suruh, tapik, tambal, tatkalanya, tetapi, tida, tuba, ujar, ulang, ulu, dan yang. Imbuhan awalan ialah: ni-, di-, mar-, par-, ka-. Imbuhan akhiran pula ialah: -i dan -an.
Batu Bersurat Karang Brahi
Bukti bertulis yang terdapat pada batu bersurat ini merupakan salah satu batu bersurat terpenting, namun tidak banyak maklumat yang diketahui dengan pasti tentang bahasa Melayu Kuno pada batu bersurat ini.
Di samping batu bersurat yang telah dinyatakan di atas sebenarnya ada lagi batu bersurat yang agak penting diketahui, yaitu Batu Bersurat Pagar Ruyung (1356 M) di Sumatera Barat. Pada batu bersurat ini tertulis beberapa sajak Sansekerta dengan sedikit prosa Melayu Kuno dengan menggunakan huruf India dan satu lagi di Aceh yang dinamakan Batu Nisan Minye Tujuh. Batu nisan ini bertarikh 1380 M dan ditulis dengan tulisan India, menggunakan bahasa Melayu, Sansekerta, dan Arab.

PERKATAAN MELAYU
Dalam tulisan Cina (dahulu Tiongkok) ada ditemukan berita yang menyatakan bahwa suatu masa ada utusan yang mempersembahkan hasil bumi kepada Kaisar Tiongkok yang datangnya dari Kerajaan Mo-lo-yeu. Berita Cina ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 644 (Masehi). Kerajaan Mo-lo-yeu ini dipercayai di daerah Jambi (di Pulau Sumatera bahagian Selatan) yang ada sekarang ini.
Buku Cina lain yang ada mencatat perkataan yang hampir sama ialah buku Ta Dang Si Yi Chiu Fia Kao Cheng Zhuan. Di dalam buku ini terdapat perkataan Mo Lou Yu. Buku Hai Nan Chi Guai Nun Fa Zhuan terdapat perkataan Mo Lou YŸ (u terdapat dua titik).
Perkataan Wu Lai Yu terdapat di dalam buku Hai Lu Chu dan buku Zheng He Hang Hai Tu. Chen Chung Shin yang menulis buku Tong Nan Ya Lien Guo Zhi (Negeri-negeri di Asia Tenggara) menyatakan bahwa orang Melayu di Semenanjung Tanah Melayu mendapat namanya daripada perkataan Mo Lo Yu, tetapi orang Cina pada masa itu ada yang menyebutnya sebagai Ma Li Yi Er, Wu Lai Yu, dan Ma La Yu.
Perkataan Malayu juga tertulis di bahagian belakang sebuah patung yang ditemukan di Padang Rocore di kawasan Sungai Batanghari (Sumatera Selatan) bertarikh 1286 M. Dan di dalam buku Sejarah Melayu perkataan Melayu dihubungkan dengan nama sebatang sungai, yaitu Sungai Melayu. Perhatikan petikan yang berikut ini: "Kata sahibul hikayat ada sebuah negeri di tanah Andelas (sekarang disebut Sumatera), Palembang namanya: Demang Lebar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak cucu Raja Suran, Muara Tatang nama sungainya. Adapun nama Perlembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka di hulu Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya".
Bahasa Melayu ternyata tidak terkungkung di daerahnya sendiri (di sekitar Palembang). Sebuah batu bersurat yang ditemukan di Gandasuli di Jawa Tengah bertarikh 832 M juga menggunakan beberapa perkataan/bahasa Melayu. Padahal Batu Bersurat Gandasuli ini ditulis dengan huruf Dewanagari, yaitu sejenis tulisan purba India Utara bagi penyebaran agama Budha. Demikian juga batu yang telah ditemukan di Kedu (Jawa Timur) yang walaupun tarikhnya tidak diketahui dengan pasti namun bahasanya menyerupai bahasa Melayu Kuno ataupun sekurang-kurangnya dipengaruhi oleh bahasa Melayu.
Walaupun penemuan Batu Bersurat Kedukan Bukit (683 M) memperlihatkan tulisan yang digunakan ialah huruf Palava, ia tidak bermakna bahwa tidak ada tradisi tulisan sebelum itu. Sebelum orang India datang ke alam Melayu, di kawasan Nusantara ini telah dikenal tulisan atau aksara Lontara di Sulawesi Selatan, aksara Batak di Sumatera Utara, dan aksara Rencong di Sumatera Selatan.


ANALISIS
Walaupun asal usul bangsa Melayu (dalam pengertian yang khusus) yang paling asal belum diketahui secara pasti tetapi pertumbuhan bahasa Melayu dapatlah dikatakan berasal dari Sumatera Selatan di sekitar Jambi dan Palembang. Kesimpulan ini dikemukakan berdasarkan beberapa alasan, yaitu:
Bahasa Melayu tidak mungkin pecahan dari bahasa Jawa karena sifatnya berbeda. Perbedaan itu di antara lain ialah bahasa Jawa mempunyai peringkat penggunaan bahasa manakala bahasa Melayu, tidak. Jadi, tentulah bahasa Melayu bukan berasal dari bahasa Jawa. Aksara Rencong ialah huruf Melayu Tua yang lebih tua dari aksara Jawa Kuno (tulisan Kawi). Masyarakat yang telah memiliki kemahiran bertulis dianggap sebagai masyarakat yang telah tinggi peradabannya dan tentu telah mempunyai masyarakat yang berkurun-kurun lamanya. Bahasa Melayu Tua dan Bahasa Batak juga tidak sama. Hal ini terbukti tulisannya tidak sama. Jadi, bahasa Melayu tentulah bukan berasal dari bahasa Batak, walaupun pada masa yang sama mungkin kedua-dua bahasa ini telah ada. Kerajaan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan yang besar. Tidak mungkin sebuah kerajaan didirikan jika di daerah itu tidak ada penduduk asal yang ramai. Kerajaan Melayu pada waktu itu tentulah bukan seperti yang dimaksudkan seperti raja Melayu yang terdapat di Pasai atau di Melaka. Pengertian raja pada waktu itu ialah Ketua Kampung dan kerajaan itu bermaksud kawasan kampung. Tetapi tentulah kawasan kampung ketika itu sangat luas dan juga terdapat beberapa kampung lain di sekitarnya.
Sehingga saat ini belum ditemukan bukti sejarah yang lebih awal dari Batu Bersurat Kedukan Bukit (di Palembang) yang telah menggunakan bahasa Melayu dalam persuratannya. Dan juga, belum ada huruf Melayu Kuno yang lain ditemukan selain dari aksara Rencong (di daerah Sumatera Selatan, aksara Rencong ini masih digunakan hingga abad ke-18). Bahasa Minangkabau ialah salah satu bahasa yang paling mirip dengan bahasa Melayu dibandingkan dengan dialek Melayu yang lain karena sejak dahulu kala lagi daerah Jambi berdekatan dengan daerah Minangkabau. Oleh yang demikian, kedua-dua bahasa ini tentulah ada pertaliannya. Walaupun bahasa Melayu tidak sama dengan bahasa Jawa dan bahasa Batak (secara khusus) namun secara umum bahasa ini pada asalnya satu rumpun yang disebut rumpun bahasa Austronesia Barat atau bahasa Nusantara.
Dari beberapa penemuan yang telah ditemukan mengenai bahasa melayu diatas, telah menjadi bukti adanya penemuan bahan etnografi yang berupa tulisan bahasa yang terukir di sebuah batu. Dengan Bahan etnografi tersebut yang menjadi adanya bahasa baru untuk berkomunikasi, meski sebenarnya bahasa melayu tersebut sedikit dipengaruhi bahasa sansekerta, tetapi bahasa melayu memiliki perbedaan dibeberapa kata. Walaupun belum diketahui secara jelas sejarah adanya bahasa melayu, tetapi bukti secara materil yaitu batu tersebut memang ada. Yang merupakan bentuk etnografi komunikasi, yang berupa bahasa.

Contoh Gambar Batu Bersurat :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar